Teringat uang 6.7 trilyun terkait bank Century, rasanya susah untuk memvisualisasikan dalam kehidupan seberapa banyak uang sejumlah itu.
Selepas Asar tadi, dengan teman iseng-iseng mencoba menghitung-hitung.
Kalau lah uang 5 juta dianggap setebal 1 cm uang 100 ribuan, dan 6.7 trilyun direduksi menjadi 5 trilyun (untuk mempermudah penghitungan), maka panjang uang itu bila disusun sejauh 5.000.000.000.000/5.000.000 = 1.000.000 cm = 10.000 m = 10 km!
Luar biasa!
Bila dimensi panjang dan lebar dihitung (anggaplah panjang lebar uang 100 ribuan = 20 cm dan 10 cm) maka volumenya adalah 1.000.000 X 20 X 10 = 200.000.000 cm3 = 200 m3.
Berarti untuk menyimpan uang sejumlah 5 trilyun diperlukan ruangan setinggi 2 meter, panjang dan lebar 10 meter.
Dan ingat, uang yang disimpan merupakan pecahan 100 ribuan, nominal tertinggi untuk sementara di negeri ini.
Jadi ingat Gober Bebek....
Orang tua datang dari Jawa, sekarang ada di Setu.
Itu berita yang saya peroleh.
Kontak sana-sini akhirnya sepakat untuk kumpul-kumpul di sana pada hari Minggu.
Kendaraan andalan apalagi kalau bukan si Trekko Flash hitam.
Baru juga lepas terminal Cikarang, begitu sampi taman di dekat PT Hitachi tiba-tiba ban kempes.
Didorong ternyata luar biasa beratnya dalam kondisi mati. Pas lihat ke belakang, ngenes rasanya. Istri setia mengikuti dengan menggendong anak. Mana pas lagi panas-panasnya….
Akhirnya dibantu tenaga mesin, dengan terseok-seok setelah melewati beberapa ‘stand’ coca cola pinggir jalan, sampai juga di tukang tambal ban.
Melepas lelah sembari menunggu ban dibongkar, istri berbisik,”Tadi ibu-ibu yang jualan coca cola bilang suruh nunggu di sana saja. Nanti bapaknya suruh balik lagi. Lain kali jangan jalan di pinggir….”
“????....”
Tak lama ketahuan penyebabnya paku berukuran sekitar 5 cm. Ban dalam yang memang kualitasnya pas-pasan sobek memanjang dan harus diganti. Repotnya lagi si tukang tamban ban tidak menyediakan ban dalam vespa.
Terpaksa harus berburu ban dalam vespa yang ternyata memang agak susah, apalagi banyak toko yang tutup di hari Minggu. Tanya ke beberapa toko dan bengkel, akhirnya dapat juga setelah mutar-muter lebih 1 km dari bengkel.
Begitu balik ke bengkel sudah ada 1 lagi ‘pasien’ motor Suzuki.
“Kena paku juga,” istri berbisik lagi. “Tadi ada mobil juga kena paku, tapi dia langsung ganti ban cadangan sendiri.”
Sekitar setengah jam kemudian, ban dalam selesai diganti. Perjalanan pun dilanjutkan. Tak lupa mengucap terima kasih kepada penambal ban. Terima kasih berbalut suudhon….
Dan Baju Koko Itu Pun Ditanggalkan Teroris (Sebuah Unek-Unek)
Entah siapa namanya. Tapi ada yang menarik tiap kali pengamen itu naik jemputan.
Pertama kali melihat, waktu itu dia berdua dengan seorang perempuan bejilbab. Adiknya mungkin....
Hari-hari selanjutnya dia selalu sendirian dengan gitar bolongnya.
Suaranya cukup bagus, tidak seperti pengamen kebanyakan yang tetap pede dengan suara pas-pasan, bahkan kadang sember demi mengejar setoran.
Bila pengamen lain penampilan tidak terlalu diperhatikan, dia konsisten dengan baju kok dan peci melingkar di kepala.
Lagu yang yang dibawakannya pun selalu berbeda dengan teman-temannya satu komunitas. Yang paling sering adalah nasyid, terutama lagu dari Opick. Kadang lagu balada milik Ebiet G Ade.
Semakin sering berinteraksi meski sekedar dari tatapan, terasa ada ikatan di antara kami. Ketika teman lain naik jemputan dari pintu depan, kadang saya lihat pintu belakang dibukakan, diiringi dengan senyumnya dan ucapan," Assalamu'alaikum... A'."
Biasanya dia naik dari SGC, kemudian turun di Pasir Gombong-Jababeka setelah membawakan 2-3 buah lagu. Tapi pagi ini dia naik dari daerah Sempu.
"Tumben naik dari sini?"
Senyumnya mengembang dulu sebelum menjawab, "Habis naik jemputan Mattel, A'... Penglaris."
Ada yang berbeda dari penampilannya. Baju kokonya! Ya... hari ini dia tidak mengenakan baju koko, tapi kaos kuning berpadu dengan warna biru.
"Hari-hari ini sedang rawan, A'. Gara-gara teroris saya terpaksa tidak pakai baju koko dulu."
Saya terhenyak.
Begitu besarnya pengaruh 'sang teroris' dalam kehidupan. Bukan hanya non muslim yang ketakutan, bahkan muslim yang menunjukkan 'identitasnya' pun menjadi khawatir.
Teringat saya akan cerita teman yang bercelana ngatung. Dia kontraktor, ... alias masih belum punya rumah. Beberapa waktu terakhir dia merasa tidak tenang. Tiap kali pulang kerja dia merasa ada yang menmbuntuti. Selidik punya selidik, ternyata yang mengikuti adalah Pak RT.
"Disyukuri saja," hibur teman saya. "Anggap saja orang penting, kemana saja harus dikawal."
Kembali ke sang pengamen.
"Apalagi kejadian kemarin ada yang di Bekasi," lanjutnya lirih. "Makanya sekarang banyak polisi di sepanjang jalan. Om saya juga mengingatkan biar tidak pakai yang macam-macam dulu."
Saya mengangguk-angguk. Miris rasanya, ketika atribut-atribut ke-Islaman diidentikkan dengan terorisme.
"Kontributor seperti saya jadi muter-muter terus sepanjang hari. Pagi kaya gini (ngamen-red), sekitar jam 10 ke Pemda, cari berita. Apalagi pas kemarin, tiap hari ke Jati Asih, nanya-nanya informasi ke penduduk sekitar."
Agak surprise juga saya. Sang pengamen adalah kontributor berita. Majalah atau koran apa?
Seolah mengerti ketakjuban saya, dia melanjutkan,"Iya... saya kontributor Rakyat Merdeka."
"Kontributor tetap atau free lance"
"Free lance."
Obrolan kami terhenti ketika dia memutus pembicaraan untuk mengamen dulu.
Sementara dia menyanyikan lagu-lagu Nasyid yang entah karya siapa, bermacam pertanyaan terhadap aksi penangkapan 'Noordin' di Temanggung menyeruak di kepala.
Apakah benar dia otak segala aksi pengeboman?
Apakah benar dia yang tertembak?
Kenapa 'konon' tidak ada bercak darah?
Kenapa drama 18 jam harus diakhiri dengan penembakan?
Kenapa tidak ditangkap hidup-hidup?
Bagaimana dengan rumah yang berantakan dan tidak bisa ditinggali lagi? Siapa yang haris bertanggung jawab?
Benarkah Jamaah Islamiyah ada? Kenapa strukturnya berdasarkan pengakuan 'mantan anggota' satu dengan yang lain selalu berbeda?
Kenapa selalu Islam yang disebut teroris?
Kenapa tiap kali ada pemboman, nama Abu Bakar Ba'asyir selalu disebut-sebut?
Apakah karena Dr. Azahari dan Noordin M Top pernah nyantri di Lukamnul Hakim?
Bukankah mereka juga pernah belajar di barat sana?
Bukankah Abu Bakar Ba'asyir pernah berkata bahwa tangannya belum pernah memegang bom?
Bukankah Abu Bakar Ba'asyir juga pernah menyatakan bahwa mestinya pengeboman dilakukan d daerah konflik?
Bukankah pengeboman juga memakan korban muslim?
Bukankah niat baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula?
Ah, entahlah....
Semua terasa janggal di otak saya yang sama sekali tidak pintar.
Yang jelas akibat pemboman, bukan hanya non muslim yang terintimidasi. Muslim dicurigai, bahkan oleh sesama muslim.
Gerak langkah serasa dibatasi labirin yang tak terlihat, namun terasa begitu kuat.
Kekhawatiran melanda semua level, mulai dari presiden hingga rakyat kecil seperti kami.
Termasuk sang pengamen ....
Salah satu penggalan hidup yang membuat saya lelah adalah ketika ditanya,”Kamu Muhammadiyah, NU, Salafi, HTI, PKS, atau….”
Dan selalu saya menjawab,”Saya muslim.”
Biasanya mereka masih penasaran dan terus mengejar, dan kembali saya menjawab,”Dulu Nabi juga tidak pernah menyatakan diri sebagai NU, Muhammadiyah atau apapun. Hanya menyatakan diri sebagai muslim.”
Saya tidak tahu, apakah memang begitu watak umat sekarang ini, atau ada grand design dari luar untuk mengacaukan Islam.
Ashobiyah. Itu yang saya tangkap.
Bahkan saya ‘dipaksa’ memilih sebagai warga NU, Muhammadiyah, atau PKS!
Bayangkan, organisasi seperti NU atau Muhammadiyah dibenturkan dengan parpol!
Kadang saya bayangkan warga NU mau hadir di pengajian Muhammadiyah.
Warga Muhammadiyah berhadapan dalam satu pengajian dengan saudara-saudara salafi.
Lalu ada dialog pula dengan teman-teman HTI.
Ada diskusi di sana.
Saling menasihati.
Saling menunjukkan yang benar dan yang salah.
Dan tak ada dendam di dada selepas itu.
Semua karena disatukan dalam lingkaran Ukhuwah.
Alangkah indahnya....
Beban kehidupan dan tumpukan pekerjaan hari ini membuat saya makin lelah. Secara tak sengaja saya menemukan beberapa baris bacaan menggugah, yang konon hasil tulisan Ustadz Rahmat Abdullah.
Meski bukan kader PKS, izinkan saya untuk mengcopy. Insya Allah bermanfaat bagi semua.
Teruslah "bergerak" hingga KELELAHAN itu LELAH mengikuti mu
Teruslah "berlari" hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejar mu
Teruslah "berjalan" hingga KELETIHAN itu LETIH bersama mu
Teruslah "bertahan" hingga KELEMAHAN itu LEMAH menyertai mu
Tetaplah "berjaga" hingga KELESUAN itu LESU menemani mu
Tanggal 3 Juli akhirnya datang juga flash hitam ke rumah. Berhubung datangnya sore, hanya sempat dipakai sebentar untuk ke warung, lalu masuk kandang.
Tanggal 4, dari pagi sudah siap-siap untuk melaju di jalan dengan si flash hitam. Mertua yang kebetulan ada di rumah rupanya agak khawatir belum bisa adaptasi dengan suasana di jalan raya. Demi tidak menambah kekhawatiran akhirnya saran itu dituruti. Tetap di jalan raya, tapi di rute yangtidak terlalu padat. Pilihan jatuh ke Sukaraya.
Baterai masih full. Kilometer ada di angka 1. Meski agak kagok, meluncur juga saya dengan memboncengkan anak istri. Lancar. Istri menyatakan sudah siap ke jalanan yang lebih padat. Pilihan jatuh ke Mutiara Gading Timur, karena sudah lama tidak silaturrahim ke sana.
Pulang ke rumah kilometer ada di angka 17. Mengantarkan mertua ke gerbang, pulang lagi ke rumah, kilometer sekarang menunjukkan angka 19. Baterai baru berkurang sedikit. Tanpa dicharge lagi kami pun meluncur.
Awal perjalanan cukup menyenangkan. Si flash hitam benar-benar eye catching. Dengan bodi yang masih mulus, tanpa knalpot, tanpa asap, dan tanpa suara, cukup menarik perhatian orang-orang di sepanjang jalan.
Sesampai Cibitung ada tanjakan sekitar 20 derajat. Dengan PD si flash tetap menghajar. Tarikan masih kuat.
Lepas Kompas tarikan si flash mulai terasa agak kurang bertenaga. Baterai terlihat masih setengah. Tapi di waktu-waktu tertentu ketika di gas, turun sampai garis merah. Kilometer ada di angka 35. Wah ... bahaya nih!
Sesampai Tambun tenaga makin loyo. Pas di depan pasar Tambun terlihat pos Polisi.
Meski agak ragu, dengan memberanikan diri saya parkir di depan pos. Numpang charge!
Alhamdulillah, polisinya sangat ramah. Beliau langsung mengizinkan. Cuma masalahnya colokan sangat jauh. Akhirnya saya beli kabel roll sepanjang 9 meter. Beres!
Dan lagi-lagi di situ si flash jadi pusat perhatian. Mulai dari Pak polisi, sampai orang-orang yang sedang lewat.
Sekitar setengah jam, saya merasa cukup untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan dialihkan dari Mutiara Gading Timur ke Papan Mas, yang lebih dekat.
Terima kasih banyak Pak Sujono, Pak Suwardi, Pak Mulyadi atas segala keramahan. Andai semua polisi bersikap seperti Bapak-bapak, mudah-mudahan slogan polisi sebagai sahabat masyarakat akan tercapai.
Sampai di Papan mas, si flash langsung dicharge. Penumpangnya pun dicharge dengan makanan.
Setelah cukup, perjalanan pun dilanjutkan ke Mutiara Gading Timur. Menjelang Maghrib kami sampai. Rumah kosong, penghuninya sedang ke pasar kaget.
Biarkanlah. Yang penting sudah sampai, nanti juga pada pulang. Sekarang waktunya istirahat.
Capek....
Beberapa waktu lalu saya dapat sms (sudah dihapus) yang isinya kuarng lebih begini ,"Anda dapat mendapat pesan suara dari 085++++++++++ Untuk mendengarkan ketik TP(spasi)085++++++++++ angka(lupa) kirim ke 151 (gratis)."
Berhubung tidak tahu , saya ikuti saja. Takutnya memang isinya penting, sampai harus meninggalkan pesan suara.
Jawabannya,"Anda hanya dapat mentransfer kalau saldo setelah transfer minimal 5000 rupiah."
Berikut saya copas dari web indosat:
Indosat Transfer Pulsa Baru
Lebih bebas dan bisa nambah Masa Aktif
Transfer pulsa baru adalah pengembangan dari transfer pulsa sebelumnya karena selain jumlah pulsa yang dapat ditransfer yang semakin variatif juga bisa menambah masa aktif penerima.
Dengan Layanan Transfer Pulsa maka kita bisa membantu teman, keluarga maupun kerabat yang mengalami kehabisan pulsa.
Mulai 5 Maret 2009, kirim pulsa antar nomor Indosat sekarang semakin fleksibel dan yang pasti menguntungkan karena Transfer pulsa kini tersedia juga untuk Matrix Auto.
Caranya sangat mudah:
•Ketik: TP
•Kirim ke 151
Contoh: TP 08151234567 5000, kemudian kirim ke 151 (setiap pengiriman pulsa dikenai tarif Rp 600,-)
Syarat & Ketentuan:
•Pengirim maupun penerima harus berada dalam masa aktif (kecuali Matrix Auto).
•Penambahan masa aktif si penerima tidak akan mengurangi masa aktif pengirim.
•Masa aktif hasil transfer pulsa akan mengambil masa aktif terpanjang (tidak akumulatif) dengan maksimal 45 hari penambahan masa aktif.
•Selain tambahan masa aktif, penerima pulsa akan memperoleh tambahan masa tenggang selama 30 hari.
•Pengirim memiliki pulsa minimal Rp 5.000 setelah melakukan transfer
•Jumlah pulsa yang terkirim akan dialokasikan pada main account penerima sehingga tidak akan hangus saat penerima melakukan perpindahan paket.
•Berlaku untuk pelanggan Mentari, IM3 dan Matrix Auto.
sumber: http://www.indosat.com/IM3/IM3_Update/Indosat_Transfer_Pulsa_Baru
Artinya format yang dikirimkan bukan untuk mendengarkan pesan suara atau melihat pesan gambar, tetapi untuk mentransfer pulsa. Jadi, waspadalah pengguna Indosat!
Anda tahu jembatan layang di depan pintu tol Cikarang?
Megah berdiri, sangat membantu kelancaran arus lalu lintas di pertigaan tol. Meski kadang masih macet, tapi frekuensi dan panjang kemacetan sudah sangat jauh berkurang dari sebelum adanya jembatan layang.
Awalnya arus lalu lintas daerah itu sangatlah lancar. Seiring industrialisasi di wilayah Cikarang, pengguna jalan semakin bertambah. Arus pun semakin padat, sementara lebar jalan tidak bertambah. Macet menjadi konsekuensi. Maka saat-saat berangkat dan pulang kerja menjadi penggalan waktu yang sangat menjemukan. Perjalanan Cikarang-EJIP yang normalnya hanya setengah jam jadi memanjang hingga 1 jam.
Semakin lama kemacetan semakin krodit. Sekali perjalanan ditempuh lewat dari satu jam pun menjadi hal yang lumrah. Perusahaan mengeluh. Banyak karyawan yang datang terlambat, sementara aktifitas kerja tidak boleh berhenti berdenyut. Akibatnya jam penjemputan pun dimajukan. Semakin tua lah para karyawan di dalam jemputan. Jadwal kegiatan harian semakin berantakan. Nyaris tak ada waktu. Waktu untuk ta'lim semakin sempit.
Tiba di rumah yang tersisa hanya penat. Hobi membaca juga jadi tak tersalurkan. Ketika ada waktu pun, membaca di rumah untuk saat ini hampir tak mungkin. Baru asyik membuka 1 halaman, Syifa yang rasa ingin tahunya sedang tingi mendekat, berceloteh panjang –pendek, ikut ‘membaca’ buku, dan ujungnya sobek sana-sini. Akhirnya sesampai di rumah rutinitinas yang ada paling hanya ngobrol sebentar, bercanda dengan keluarga, setelah itu terlelap menyisakan tumpukan buku yang belum sempat dibaca di balik lemari buku.
Akhirnya Pemda tanggap juga. Proyek pembuatan jembatan layang pun dirancang. Tetapi ketika pembangunan dilaksanakan, justru puncak kemacetan terjadi. Bahkan ketika awal pembangunan pernah terjadi perjalanan EJIP-Cikarang ditempuh dalam waktu 5 jam! Luar biasa....
Ketika badan terasa lelah, jiwa ini pun semakin jarang disiram. Pengetahuan semakin jauh. Sementara telinga semakin akrab dengan genjrang-genjreng gitar pengamen.
Suatu ketika ada kajian di Masjid EJIP. Pembicaranya Syaikh Nashr Abdul Karim al 'Aql dari Arab. Ada seorang setengah baya berbadan tegap yang mendampinginya. Entah, siapa namanya dan apa posisinya.
Pada sesi tanya jawab ada seorang ikhwan yang mengajukan pertanyaan tentang keutamaan mencari ilmu. Intinya sama dengan yang saya alami. Beliau sadar bahwa mencari ilmu itu wajib. Tetapi waktunya terasa sangat sempit karena telah terkuras untuk kesibukan mencari nafkah yang juga merupakan kewajiban. Ditambah lagi kemacetan yang tanpa bosan menghadang perjalanan.
Sang pria berbadan tegap tersenyum, lantas berujar,"Para shahabat tidak kalah sibuk dari kita, tapi mereka selalu punya waktu untuk mencari ilmu."
Saya terhenyak. Jawaban itu sangat mengena. Para sahabat justru jauh lebih sibuk dari kita, dengan kesibukan yang juga sangat menguras tenaga dan pikiran. Hanya mereka mampu menerapkan manajemen waktu secara efektif.
Menengok ke belakang, saya coba menganalisa di bagian mana waktu saya tercuri untuk bermanfaat. Dan tak perlu waktu lama untuk menunjuk kemacetan yang menyebabkan waktu terampas hingga 3-4 jam tiap hari di jalan. Bayangakan, 3-4 jam per hari. Artinya dalam sebulan (22 hari kerja) dihabiskan waktu 66-88 jam di jalan, dan tidak ada yang dilakukan. Paling-paling ngobrol. Atau tidur di sela celoteh para pedagang asongan dan dendang pengamen. Duh, sangat tidak produktif. Sementara puluhan buku di rumah masih belum juga dibaca.
Hmmm... itu dia!
Di sini rupanya salah satu kesalahan saya.
Keesokan harinya saya berangkat kerja dengan berbekal buku. Kalau biasanya membaca dalam perjalanan terasa pusing, sekarang bisa agak nyaman karena jalan mobil yang tersendat. Akhirnya pengerjaan jalan layang yang menjemukan pun berubah menjadi hal menyenangkan. Beberapa buku selesai dibaca dalam perjalanan.
Hingga tak terasa proyek pembangunan jalan layang selesai juga. Biasa lama di perjalanan, takjub juga saya ketika sampai rumah sementara adzan maghrib belum juga berkumandang. Waktu dengan keluarga pun bisa lebih panjang.
Akhirnya waktu pun berjalan ‘normal’ kembali.
Selang beberapa bulan, menengok lemari buku terlihat deretan buku yang belum dibaca kembali memanjang.
Tiba-tiba saya kangen dengan kemacetan itu....